Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

Menulis Itu menyehatkan lho.

Ayo Menulis!"

"Orang yang memiliki kebiasaan menulis memiliki kondisi mental lebih
sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukannya. "
-- James Pennebaker, Ph.D., dan Janet Seagal, Ph.D., University of
Texas, Austin, dalam Journal of Clinical Psychology.

"AYO BELAJAR!", begitulah perintah orang tua terhadap anaknya ketika
sang anak ketahuan sedang asyik menonton televisi atau bermain game.
Kalimat generik dari orang tua mana pun, bahkan hal serupa pernah
kita alami ketika kita masih kanak-kanak. Namun, rasanya kita jarang
mendengar atau bahkan tak pernah ada orang tua yang menyuruh anaknya
untuk menulis? "Ayo menulis!", pernahkah Anda mendengarnya?

Betul, menulis. Tak lazim memang perintah itu. Bagi anak-anak yang
masih terbatas kemampuan menulisnya pasti akan mendelik. "BT ah"
mungkin kalimat itu yang akan keluar dari mulutnya. Lagi pula,
jangankan anak-anak, orang dewasa pun pasti akan kesulitan untuk
diberi perintah seperti itu. Menulis?

Betul, menulis. Sederet kalimat akan meluncur. Bila semua orang bisa
menulis, tentu negeri ini akan penuh dengan karya sastra. Mungkin
juga sastra tidak akan ada lagi, kalau semua orang bisa menulis,
apalagi dengan kalimat yang indah dan berirama layaknya pujangga.
Menulis memerlukan keterampilan tersendiri. Benarkah demikian?

Tidak juga sebenarnya. Pada dasarnya setiap orang dapat melakukan
kegiatan tulis-menulis, bahkan secara menyenangkan. Tak ada
keterampilan atau keahlian khusus dalam menulis. Anda mungkin
mengenal nama Rachmania Arunita. Dia adalah perempuan muda pengarang
novel remaja best seller, `Eiffel, I'm in Love'. Rachma mengaku pada
awalnya tidak suka menulis. Tapi ketika guru bahasa Prancis
mewajibkan murid-muridnya untuk membuat sebuah karangan, dia mulai
ketagihan menulis. Rachma berkisah, awalnya ia sering melakukan
plagiat alias menjiplak tapi ketahuan. Rachma pun kena omel dan
dihukum untuk membuat PR mengarang. Tak diduga, hasil karangannya
mendapat acungan jempol gurunya bahkan dipuji di depan kelas. Mulai
dari situ Rachma pun ketagihan menulis hingga akhirnya ia menelurkan
novelnya yang ternyata meledak di pasaran. Bahkan kemudian diangkat
dalam film dengan judul yang sama.

Persoalan lain yang kerap mengganggu proses menulis adalah soal
mood. Lainnya? Fasilitasnya tidak tersedia dengan lengkap, seperti
komputer, laptop atau lainnya. Ah, itu sih alasan klasik. Lihatlah
Agatha Christie, pengarang novel misteri terkenal. Anda mungkin bisa
membayangkan susahnya orang menulis saat itu, di zaman tahun 1920-
1930an. Namun dengan segala keterbatasan peralatan, lahir novel-
novel berkelas dunia dari Agatha Christie, Ngaio Marsh, Sir Arthur
Conan Doyle dan seabreg pengarang top lainnya.

Jadi sesungguhnya yang paling penting untuk menulis ialah niat dari
awalnya. Kesungguhan tanpa dimulai dengan niat pada awalnya, tentu
tak akan terlaksana dengan baik. Orang bijak bilang bahwa cara yang
paling sederhana untuk menumpahkan isi hati dan pikiran adalah
dengan menulis, karena bila tidak, ia seperti sebuah saluran, suatu
saat tersumbat dan meledak.

Seorang wanita bernama Dewi Hermayanti dalam suatu milis
menceritakan unek-uneknya. Dewi mengatakan, "Kadang-kadang perlu
rasanya untuk mengeluarkan apa yang ada di hati lewat tulisan.
Apalagi rasanya sudah menyesak di dada. Cuma apa yang harus ditulis,
bingung tidak tahu mau nulis apa, tapi rasanya memang perlu
menulis. Aneh memang. Tapi begitulah, Andai saja otak kita punya
tombol print mungkin gampang saja mengeluarkan isi otak kita.
Tinggal pencet print terus select subject, langsung keluar deh apa
yang mau kita ungkapkan dalam tulisan. Sayang, otak kita cuma bisa
memerintah si tangan untuk bergerak sesuai yang diperintahkan. "

Terkesan dengan unek-unek tersebut, Pak Hernowo dari Penerbit Mizan,
menanggapi posting Ibu Dewi. Dia pernah melakukan studi kecil-
kecilan tentang kegiatan menulis. Selama melakukan studi itu, nah
ini yang penting, ia kemudian bertemu dengan Psikolog Pennebaker
yang menganggap menulis dapat mengatasi depresi. Menulis itu dapat
menyehatkan tubuh dan jiwa. Pennebaker meniru tradisi confession
dalam agama Katolik dan menerapkannya pada pembuatan catatan harian.
Bahkan seorang penulis kondang, Fatima Mernissi, juga bilang bahwa
menulis setiap hari dapat mengencangkan kulit wajah. Hernowo pun
bercerita bahwa ia bertemu dengan ahli linguistik bernama Dr.
Stephen D. Krashen. Penelitiannya menunjukkan bahwa menulis dapat
memecahkan problem-problem diri. Katanya, menulis itu menata
pikiran. Jadi, kalau kita dapat menata problem kita, bisa jadi
problem kita bisa hilang. Dan dia juga membuktikan bahwa menulis dan
membaca itu tidak dapat dipisahkan. Membaca itu memasukkan, dan
menulis itu mengeluarkan. Demikian Hernowo menjelaskan dalam
postingnya.

Keampuhan menulis tidak saja dialami Hernowo dalam penelitian kecil-
kecilannya itu. Dari seberang sana, tepatnya di Amerika Serikat,
Joshua M. Smyth, psikolog dari Syracuse University lebih jauh lagi
menyatakan menulis dapat menghasilkan perubahan pada sistem imunitas
dan hormonal dalam merespons beban stres, dan meningkatkan hubungan
dan kemampuan kita menghadapi stres.

Contohnya, ada juga. Dia adalah Debra Van Wert, 44 tahun, dari
Rochester, New York, setelah menderita Pre-Menstrual Syndrome (PMS)
atau sindrom menjelang menstruasi selama lebih dari satu dekade,
Debra mulai mencatat gejala-gejala yang dialami tubuhnya. Debra
mengatakan, "Dengan membuat catatan, saya dapat mengantisipasi fase-
fase hormonal dan mengidentifikasi minggu kapan saya berada pada
kondisi paling fit dan paling buruk."

Kegiatan menulis tidaklah dimaksudkan untuk menjadi sastrawan besar,
tapi paling tidak punya manfaat bagi kesehatan. Sebagaimana dikutip
dari Majalah Reader Digest Indonesia, April 2005, berikut adalah
sejumlah keuntungan dari menulis:

MENGURANGI BERAT BADAN. Para peneliti dari Women's Health
Initiative menarik kesimpulan bahwa catatan harian tentang makanan
yang dikonsumsi membantu menimbulkan kesadaran tentang konsumsi
kalori dan asupan lemak. Dan jika Anda mengetahui seberapa banyak
yang telah dilahap, akan lebih mudah menguranginya.

MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR. Ilmuwan di Temple University menemukan
bahwa wanita yang menuliskan pengalaman traumatisnya – seperti
pemerkosaan atau kecelakaan lalu lintas yang parah - ternyata jarang
mengalami sakit kepala, susah tidur, dan gejala depresi dibandingkan
mereka yang tidak mau menuliskannya.

MELAWAN PENYAKIT. Berdasarkan sebuah penelitian pada tahun 2002 di
Ben-Gurion University, Israel, disimpulkan bahwa mereka yang
menuliskan sebuah kejadian yang menjadi beban pikiran, akan
mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke klinik pengobatan selama l5
bulan ke depan.

MENGURANGI STRES. Sebuah studi di Chicago Medical School menemukan
bahwa ketika penderita kanker yang kurang diperhatikan keluarganya
menuliskan tentang penyakit yang diderita selama 20 menit setiap
hari, mereka jadi jarang mengalami stres selama enam bulan
berikutnya.

Nah, mengapa Anda tidak menyiapkan pulpen dan kertas untuk mulai
menulis sejak sekarang. Karena ternyata menulis bukan hanya
menyenangkan, tapi juga menyehatkan lahir dan batin. Bahkan bisa
jadi Anda dapat menangguk untung karenanya. Dan, jangan lupa, bila
suatu saat Anda sakit, setidaknya satu resep sudah di
tangan: "menulis". Ini bukan sekedar lelucon. Penelitian telah
membuktikannya. So, tunggu apa lagi? Ayo Menulis!

Jumat, 22 Maret 2013

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Manusia dan Kebudayaan 

Manusia adalah makhluk sosial yang berarti manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya dorongan atau bantuan dari pihak luar. Begitu pula dengan kebudayaan, kebudayaan tidak akan berjalan jika tidak ada yang melestarikan atau menggerakkannya (manusia). Oleh sebab itu manusia dan kebudayaan mempunyai hubungan yang sangat erat.

Kebudayaan merupakan suatu adat istiadat atau kebiasaan tertentu yang di buat oleh manusia dan di rasakan pula oleh manusia. Bahasa, musik, tarian, kerajinan, semua itu merupakan kebudayaan visual atau kebudayaan yang bisa manusia rasakan. 

Banyak sekali macam - macam budaya bangsa Indonesia yang harus kita lestarikan. Setiap provinsi di Indonesia memiliki ciri khas budaya mereka masing - masing. Ada rumah adat, tarian daerah, alat musik daerah, lagu daerah, pakaian adat dan senjata daerah. Itu semua adalah budaya yang ada dalam bangsa Indonesia dan harus kita lestarikan.

Selasa, 26 Februari 2013

Gagal Jadi Penulis Hanya Karena Email

Ratusan email, setiap harinya berdatangan. Email-email itu diseleksi oleh sekred. Yang isinya laporan atau pertanyaan langsung di handle olehnya, sementara untuk naskah atau contoh ilustrasi biasanya diforward ke aku.Tentu aku gak akan sanggup membacanya satu persatu setiap hari. Ada jadwal hari-hari tertentu di mana aku membuka email dengan jumlah email yang terbatas. Itu sebab antrian pembacaan email padat merayap.

Di saat padat merayap dengan mata yang mulai kunang-kunang, tentu semakin mengesalkan saat mendapati email dengan kata pengantar yang berkesan perintah. Jika sudah begitu, tanpa membuka file attachment-nya lagi, aku akan abaikan email itu atau malahan langsung aku delete. Kedengerannya kejam. Tapi begitulah.
Dan ini 2 contoh email yang termasuk paling sopan di antara yg paling mengesalkan itu :
1.
Kepada
Yth. Redaktur Majalah xxx
di tempat.
Dengan hormat,Bersama ini saya kirimkan beberapa contoh gambar karya saya. Mohon dibuka dan diamati, mungkin saja ada style gambar saya yang cocok di hati dan sesuai kualifikasi sebagai ilustrasi. :)Mohon konfirmasinya SEGERA. Jika ada kritik dan saran, silahkan hubungi saya. Sekian dari saya. Mohon pertimbangannya­ :)Terima kasih.
Hormat saya,
xxxx
---------aku sangat tidak suka dengan kalimat: "mohon dibuka dan diamati". Secara logika, tanpa disuruh pun aku akan 'membuka dan mengamati' bahkan sampai memelototi dengan seksama. Alangkah baiknya jika kalimat itu ditulis; mohon dipelajari karya saya ini, mungkin saja ada stule yang.. bla bla la.Lalu aku juga sangat tidak suka dengan kata SEGERA yang ditulis kapital pula. Hei, aku juga pinginnya sesegera mungkin mengenyahkan emailmu!
2.
Kepada
Yth. Managing Editor xxx
di tempat
Ini naskah cerpen saya. Dibaca ya. Semoga cocok. Saya tunggu konfirmasinya ke nomor telepon xxxxx. Jika dalam waktu 3 minggu naskah ini tak mendapat jawaban apa pun, saya akan menariknya dan mengirimkannya ke media lain. Demikian harap maklum.
Hormat saya,
xxxx.
---------- dan harap maklum, kalau naskah itu baru aku baca 7-10 bulan kemudian
Plis, deh. Aku wonder women yang punya kecepatan membaca 500 kata dalam dua detik, juga bukan pesuruhmu yang harus tunduk dan taat membaca naskahmu sebelum 3 minggu (aih 3 minggu?) dan mengabaikan naskah-naskah hebat lainnya, bukan?
Teman-teman, maaf atas catatan ini. Namun, layaklah kita ketahui bagaimana kita bersantun dalam menawarkan karya kita ke media.
Nggak. Media gak segitu gila hormat, tapi bagaimana pun etika saat menawarkan naskah mestinya diperhatikan. Bagaimana membuat redaktur terpikat akan bahasa yang mengantar naskah tersebut.
Seperti juga ketika kita sedang menarik perhatian seseorang, kita akan berlaku baik dan menyenangkan. Bukan mengintimidasi dengan perintah dan ancaman. Redaktur juga manusia. Apalagi dia disebut sebagai 'penentu nasib' naskah kita.
Ya, aku katakan bahwa kedua email di atas itu adalah email yang paling sopan di antara yang menjengkelkan. Tapi tetap aja bikin naik darah. Aku gak akan menayangkan email-email lain yang bahasanya jauh lebih bossy ketimbang dua email di atas sebagai contoh, karena dengan 2 contoh itu saja, aku yakin sudah cukup mewakili bagaimana 'bete'-nya redaktur.
Redaktur pada umumnya lebih suka pengantar yang isinya normal-normal aja, gak dibuat-buat dan gak ada tekanan. Lebih disukai lagi kalau langsung dilengkapi dengan biodata agar mudah saat menghubungi.
Dan lebih disukai lagi kalau setelah mengirim naskah di email tsb, duduklah yang manis. Jangan meneror sekred atau redaktur lewat email berikutnya (tau malahan tlp ke kantor redaksi) terus-menerus, semata hanya untuk mengetahui nasib email yang baru dikirim 4 minggu lalu.
JIka masa menunggu telah terlalu lama, misalkan sudah 8-9 bulan atau setahun lebih, silakan mengirimkan email konfirmasi sekaligus forward-an email sebelumnya sebagai pengingat.
Jika masih belum ada tanggapan juga, silakan lemparkan naskah tersebut ke media lain, tetapi tentunya dengan terlebih dulu mengirimkan email surat penarikan naskah pada media sebelumnya.
Menjadi penulis muda yang beretika sebenarnya gak ribet kok.
Salam. 




Oleh Erin Erina/Reni Teratai Air II, Redaktur Majalah Story.

ROYALTI, DAMBAAN SETIAP PENULIS

Benarkah? Maka, jawabnya benar. Tapi, itu hanya salah satu dari hal-hal yang menjadi tujuan atau keinginan seorang penulis. Menurut saya pribadi, royalti buat saya bukan tujuan utama. Tujuan utama saya menulis adalah mengungkapkan hasil pemikiran/imajinasi saya. Namun tiap orang tentu berbeda tujuannya.

Sebagai pengelola grup kepenulisan dan berapa kali menyelenggarakan kegiatan lomba menulis yang akhirnya naskah-naskah terbaik akan ditebitkan menjadi buku, timbul kegelisahan (pertanyaan) di kalangan peserta. Jika naskahnya lolos untuk diterbitkan, akankah mendapatkan royalti? Padahal di informasi lomba, sudah dijelaskan kontributor yang naskahnya lolos untuk diterbitkan tidak mendapatkan bukti buku terbit maupun royalti, tetapi akan mendapatkan diskon pembelian buku 10% dari harga jual.

Lewat tulisan ini, saya ingin menjelaskan, mengapa tidak mendapat buku bukti terbit dan tidak mendapat royalti sebagai salah satu syarat lomba. Perlu diketahui, buku-buku hasil karya Lomba Grup PEDAS, diterbitkan secara indie. (dibiayai sendiri) Mengapa tidak ke penerbit mayor? Penerbit mayor tidak menerima naskah buku yang ditulis secara keroyokan kecuali ditulis oleh penulis-penulis yang memang sudah punya nama, misalnya Kumpulan Cerpen Tahunan Kompas. Buku itu ditulis oleh penulis-penulis yang karyanya sudah dimuat di harian tersebut.

Pada penerbit Indie, biaya ditanggung sendiri. Ada kecenderungan sebagian penulis merasa puas naskahnya diterbitkan menjadi buku dan tak berminat membeli (entah memang tidak berminat atau tidak punya uang). Lalu, siapa yang membeli buku-buku tersebut, kalau penulisnya saja tidak mau membeli?

Pada artikel kompasiana yang berjudul “Mengintip Hitung-hitungan Royalti Penulis Buku”, (http://media.kompasiana.com/new-media/2012/01/06/mengintip-hitung-hitungan-royalti-penulis-buku/), si penulis mengungkapkan ada dua sistem bagaimana sebuah penerbit (mayor) menghargai karya seorang penulis. Pertama: royalti, dan kedua: jual putus. Besaran royalti itu bervariasi antara penerbit satu dan penerbit yang lainnya. Masing-masing penerbit memiliki policy masing-masing. Namun, besaran standar royalti penerbit di Indonesia adalah 10% dari harga jual eceran (bruto) per bukunya. Ada juga yang hanya mematok 5% dan 7%.

Dalam sebuah workshop di Jakarta beberapa waktu lalu, Ayip Rosidi, seorang pengarang senior yang juga mantan ketua Ikapi dan salah satu satrawan besar Indonesia, secara umum juga mengatakan, rata-rata royalti yang dibayarkan ke penulis memang sebesar 10% dari harga eceran (bruto).

Kembali ke artikel di atas. Disebutkan, kalau sistem beli putus, kisaran honor yang didapat penulis mulai Rp 1,5 juta sampai dengan Rp 15 juta, tergantung ketebalan buku, proyeksi pasar, dan kredibilitas penulis.

Dalam artikel tersebut si penulis mengambil perumpamaan pada penerbit mayor dengan jumlah cetak buku sangat besar. 5.000 buku.

Sekadar contoh, Achie T.M., penulis novel Cloud(y), novel pertamanya dibeli putus (kalau tidak salah) seharga Rp 2,5 juta (tahun 2007). Sekarang ia sudah punya nama. Cloud(y) novelnya yang ke-8, saya rasa sekarang tidak jual putus lagi. Lalu bagaimana dengan karya-karya penulis dari grup-grup kepenulisan yang notabene penulis pemula? (biarpun sudah punya antologi ke-70, 80, bahkan ke-100!).

Biaya menerbitkan buku secara indie dapat dilihat dengan mata telanjang karena para penerbit Indi terbuka mempublikasikan berapa biaya menerbitkan buku. Rata-rata menawaran Rp 350.000 mendapatkan satu atau dua buku bukti terbit yang dikirim ke rumah bebas biaya kirim. Penerbit indie akan membantu promosi/publikasi secara online. Cukupkah secara online? Tergantung jaringanmu. Semakin luas jaringan penerbit dan jaringanmu maka peluang buku diketahui orang banyak semakin besar. Tapi apakah itu mendorong orang untuk membeli? Jawabnya: tidak tahu.

Ada juga penerbit indie yang menawarkan untuk karya keroyokan (grup) Rp 1.000.000 mendapatkan 25 buku. Artinya harga 1 buku Rp 40.000. Sebuah buku karya grup biasanya ada sekitar 20 s.d. 30 kontributor. Lalu bagaimana hitungan pembagian royaltinya? Penerbit indie tidak akan memberikan royalti karena memang tidak ada royalti yang bisa dibagi. Buku dicetak berdasarkan permintaan (Print on Demand/POD), kelebihan sistem ini walau hanya ada satu permintaan buku tetap akan dicetak dan dikirim.

Penerbit indie kadang mendorong kontributor untuk menjadi pemasar untuk buku-buku yang  ada tulisannya, dengan memberikan kompensasi sekitar Rp 5.000/buku. Ini bisa juga disebut sebagai royalti. Semakin banyak kontributor menjual buku maka semakin besar royalti yang diterima. Sistem ini pada penerbit indie menjadi lebih adil, siapa bekerja keras maka akan mendapat hasil yang seimbang.

Ada juga dengan sistem investasi. Semakin banyak buku dicetak akan semakin murah harga produksi buku.
Seumpama  mencetak 200 buku. Harga produksi per buku sekitar Rp 25.000.
Harga jual buku =  Rp 25.000 + 20 % biaya promosi/publikasi + 40% keuntungan  
Rp 25.000 + Rp 5.000 + Rp 10.000 = Rp 40.000.Jadi harga jual per buku adalah Rp 40.000.
Keuntungan Rp 10.000 dibagi antara investor dan kontributor, masing-masing 50%
Jadi kontributor akan mendapatkan Rp 5.000 x 200 buku : 30 kontributor = Rp 33.000.

Tetapi, biaya transfer antarbank antara Rp 15.000 s.d. Rp 35.000 bila bank berbeda (hanya bebas biaya kalau banknya sama). Artinya, untuk biaya transfer saja ada kemungkinan minus. Itu pun kalau terjual 200 buku, dan belum diketahui 200 buku itu akan terjual dalam rentang waktu berapa lama. Biasanya royalti dikirim per tiga bulan.

Maka, investor pun menerapkan sistem seperti yang diterapkan penerbit indie, memberikan Rp 5.000/buku dari buku yang dijual si kontributor. Misalkan tiap kontributor menjual 10 buku, maka untuk menjual 200 buku hanya diperlukan 20 orang kontributor. Dan besarnya royalti yang diterima pun lebih besar (Rp 5.000 x 10 buku = Rp 50.000) Ini pun menjadi lebih fair. Siapa menjual banyak dan cepat maka akan mendapat banyak dan cepat juga (mungkin tidak sampai rentang waktu  3 bulan).

Kalau ada yang bilang, enak yang jadi investor dong. Maka saya akan berkata, tidak ada larangan siapun menjadi investor. Kalau memang enak menjadi investor mengapa sedikit sekali yang bersedia? Bagaimana kalau buku gagal di pasaran, apakah para kontributor menanggung resiko? Jawabnya tidak. Risiko ada pada investor. Pada sistem ini, penerbit indie pun tidak menanggung risiko karena mencetak hanya berdasarkan permintaan.

Semoga tulisan ini membuka wawasan para penulis pemula. Saya dari dulu bercita-cita menjadi penulis tapi saya tidak menjadikan menulis sebagai mata pencarian. Jika dari karya saya yang dimuat di media cetak, saya mendapat honor, maka itu saya anggap bonus. Tulisan-tulisan saya adalah jejak keberadaan saya. Jika ada yang menghargai secara materi, itu sebuah kehormatan. Tapi dibaca, diapresiasi dengan dikomentari saja, juga sudah menjadi sebuah kehormatan yang tak bisa dinilai dengan materi.

Note: Untuk sukses buku ini tersebar ke mana-mana dan di beli banyak orang, maka kontributor mempunya peran besar. Kontributor harus mampu menjelaskan mengapa karyanya yang ada di buku tersebut perlu di baca. Bukan cukup puas sudah terbit lalu coverbuku di tag ke-mana-mana (sebatas fb) dengan pesan telah terit antologi saya yang pertama/antologi saya yang ke 25. beli yah.

Maka saya kerap bertanya, siapa kamu, dan bagaimana karyamu sehingga saya harus/perlu membeli antologimu? karena pemasarannya secara online, pertanyaan itu tidak terjawab. Dan Si Kontributorpun tidak mendapat feedback apa-apa, karean saya yakin seyakin-yakinnya hanya 10 % kawan yang di tag yang mau berkomentar dan kurang dari 1% yang mau membeli.

Jadi laku atau tidak lakunya buku-buku dari penerbit Indie bukan kurang secara kualitas api peran serta kontributor yang minim dan ketidak tahuan kontributor untuk menyampiakan informasi mengani produknya (buku) dengan benar.


Elisa Koraag

Senin, 11 Februari 2013

Politik Sayembara Sastra

oleh Saut Situmorang

Dalam kolom Kehidupan bertajuk “Bayang-bayang Perempuan Pengarang” (Kompas, Minggu 7 Maret 2004) tentang fenomena makin banyaknya jumlah pengarang fiksi berjenis kelamin perempuan bermunculan di Indonesia akhir-akhir ini, terutama dalam konteks Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003 yang tiga pemenang utamanya adalah pengarang perempuan, terdapat kutipan pernyataan dari Sapardi Djoko Damono berikut ini: “Masa depan novel Indonesia ada di tangan perempuan, karena lelaki lebih bodoh dan malas membaca.” Beberapa tahun sebelumnya, dalam kesempatan publikasi pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998 yaitu Saman karya Ayu Utami, yang kemudian dipasang sebagai blurb atau deskripsi promosional di sampul-belakang naskah yang diterbitkan itu, Sapardi Djoko Damono juga membuat pernyataan bombastis yang sensasional: “Dahsyat . . . memamerkan teknik komposisi yang – sepanjang pengetahuan saya – belum pernah dicoba pengarang lain di Indonesia, bahkan mungkin di negeri lain.”
Tapi apa yang sangat mengherankan saya adalah bahwa kedua pernyataan bombastis di atas justru datang dari, menurut Kompas dimaksud, seorang “tokoh kawakan”, “sastrawan sekaliber” Sapardi Djoko Damono – penyair, redaktur, eseis, penterjemah, profesor sastra, dan akhir-akhir ini, cerpenis – yang bahkan “telah terlibat dalam aktivitas [penjurian Sayembara Dewan Kesenian Jakarta] sejak tahun 1970-an.” Mengherankan juga karena sampai saat ini saya masih belum melihat adanya respons kritis dari masyarakat sastra Indonesia yang, paling tidak, berusaha memaksa Sapardi Djoko Damono untuk mengelaborasi pernyataan-pernyataan publiknya tersebut, lewat polemik di media massa misalnya. Masih hidupkah sastra kontemporer Indonesia?
Kita tentu saja tidak harus setuju dengan kedua pernyataan Sapardi Djoko Damono tersebut, apalagi kalau diingat bahwa karya-karya para pengarang perempuan yang dirujuknya itu adalah karya-karya yang “dipilihnya” sebagai pemenang dalam dua Sayembara Dewan Kesenian Jakarta di mana dia merupakan salah seorang jurinya. Dia memang memiliki kewajiban untuk mempertahankan/membela karya-karya yang dimenangkannya itu di hadapan publik sastra Indonesia.
Apa yang mesti kita pertanyakan adalah bombasme kata-kata yang kelihatan memang sengaja dipakai Sapardi Djoko Damono untuk membuat kontroversial sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki apa-apa yang mesti dibuat sensasi. Dari kelima pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2003, terdapat dua orang pengarang laki-laki, yaitu Gus tf Sakai dan Pandu Abdurrahman Hamzah. Berdasarkan fakta ini, kita bisa mempertanyakan Sapardi di manakah relevansi pernyataannya bahwa “masa depan novel Indonesia ada di tangan perempuan, karena lelaki lebih bodoh dan malas membaca.” Seandainyapun kelima pemenang Sayembara tersebut berjenis kelamin perempuan semuanya, tetap masih terasa sangat mengada-ada untuk membuat klaim bahwa “masa depan novel Indonesia ada di tangan [pengarang] perempuan” Indonesia, seolah-olah naskah novel mereka yang kebetulan dimenangkan itu akan dengan pasti mengakibatkan suatu perubahan hakiki dalam dunia novel kontemporer Indonesia. Blurb dari pernyataan Sapardi pada sampul-belakang novel Saman Ayu Utami seperti yang saya kutip di awal esei ini bisa juga kita pertanyakan secara sederhana begini: “Teknik komposisi” yang bagaimanakah yang sebenarnya dipamerkan oleh Saman yang – sepanjang pengetahuan Sapardi Djoko Damono – belum pernah dicoba pengarang lain di Indonesia, bahkan mungkin di negeri lain itu? “Teknik komposisi” dalam pengertian narasi narsistik-masturbatori atas genitalia perempuankah (yang menghasilkan voyeurisme katarsis) yang dimaksudkan juri-cum-pengarang laki-laki ini? Kemudian, di manakah relevansi “pengetahuan [sastra]” seorang Sapardi Djoko Damono dengan “kedahsyatan” novel Ayu Utami itu? Dalam kata lain, siapakah yang bisa menjamin bahwa “pengetahuan [sastra]” Sapardi Djoko Damono memang merupakan pengetahuan standar atas novel, apalagi kalau kita kaitkan hal ini dengan klaimnya yang lain bahwa “[pengarang] lelaki [Indonesia] lebih bodoh dan malas membaca”?!
Problem sastra Indonesia saat ini adalah para penulis berjenis kelamin laki-laki yang karena usia tua jadi sudah mulai pikun kemampuan berbahasanya. Dari kedua pernyataan Sapardi Djoko Damono di atas terlihat bahwa Sapardi sering lupa bahwa “seleranya” sebagai seorang juri sayembara BUKAN mewakili selera mayoritas pemikir sastra Indonesia. Dalam konteks sebuah sayembara, beda juri/generasi tentu akan beda selera bacaannya dan tidak mustahil untuk tidak menghasilkan beda pemenang. Di sisi lain, sikap yang seolah-olah mendukung pengarang perempuan seperti yang ditunjukkan pernyataan-pernyataan Sapardi tersebut bisa juga dicurigai sebagai cuma sebuah refleksi sisa-sisa sikap patronising pengarang laki-laki tua terhadap para pengarang perempuan muda yang tiba-tiba menjamur jumlahnya dibanding periode sebelumnya, periode di mana para pengarang patriarch ini sedang jaya-jayanya. Tidak tertutup kemungkinan bahwa timbulnya sikap ini disebabkan adanya rasa ketakutan/kecemasan Oedipal terhadap eksistensi para penulis laki-laki muda yang akan menjadikan mereka tinggal sejarah, sekedar pengisi daftar who’s who di mata pelajaran sastra sekolah menengah misalnya, maka mereka lebih bisa “menerima” para pengarang perempuan muda yang lantas mereka puja-puja.

Senin, 30 Juli 2012

Tips Menulis

Sebenarnya menulis itu gampang. Asal kita terus berlatih tiap hari, melatih otak kita agar bisa diajak kerja sama. Seperti ketika bekerja, kita juga harus memahami relasi kita agar terjalin suatu keakraban. Begitupun dengan otak kita yang setiap hari berpikir tanpa lelah. Nah, selain keakraban, otak juga perlu vitamin.
Sebenarnya apa yang ada di dalam diri dan di sekitar kita bisa menjadi bahan yang sangat baik untuk membuat sebuah tulisan. Yang penting kita bisa menulis dulu, untuk hasil selanjutnya itu belakangan. Bagi pemula, mungkin akan sangat sulit untuk mencari inspirasi yang muncul di otak kita, sehingga kadang membuat kita frustasi. Kemampuan otak jika dipaksa untuk bekerja memang akan sulit, maka rileks dan santai akan membantu kerja otak.
Teruslah membaca guna menambah referensi menulis.